Oleh: Michelia Alba
Abu
merenung di kesunyian malam. Tanpa henti dia menguraikan bait-bait doa dengan
indah. Semakin dia berdoa, semakin deras tetesan air mata yang mengalir.
Matanya masih berkaca-kaca ketika melihat pepohonan melambaikan tangannya untuk
ikut bersamanya. Juga awan yang sedang berjalan-jalan terbawa angin. Dalam
pertengahan doanya, dia mempertanyakan keberadaan bulan yang sejak tadi tidak
menyapanya.
Masih
di bumi yang berputar, dia berjalan keluar rumah. kakinya menghantam pasir dan
rerumputan silih berganti. Kemudian sampailah dia di sebuah rumah yang berwarna
hijau. Dia melihat dua orang anak yang sedang bermain kembang api. Sebelum
sempat mulutnya terbuka lebar untuk menyapa, ibu dari kedua anak tersebut
keluar.
“Ayo
masuk, jangan main diluar! Itu ada orang aneh. Ayo cepat masuk!” ucap seoarang
ibu dari kedua anak itu seraya menatap Abu secara kasar.
Abu
menundukan kepalanya dan mulai berjalan lurus kembali. Udara yang dingin
menusuk kulit orang-orang desa, tetapi tidak pada Abu. Dia tidak merasakan
sentuhan angin dan sentuhan apapun disekujur tubuhnya. Kulitnya mati rasa tak
berbekas. Bahkan ketika dia terkena air panas dari termos, kulitnya tidak
terkelupas sama sekali. Hingga saat ini ia merasa kesulitan untuk membedakan
kasar dan halus.
Abu
duduk di pesisir pantai Katingga dekat desanya. Dia menatap luasnya lautan yang
dingin serta pepohonan yang sedang tertidur. Ingin rasanya Abu membangunkan
mereka semua lalu bernyanyi bersama seperti di pagi hari. Namun itu mungkin
akan sangat menganggu waktu istirahatnya.
Dari
kejauhan, Abu mendengar suara langkah seseorang. Orang itu seperti ingin
mendekatinya. Telinga Abu semakin melebar. Suaranya menunjukan bahwa jaraknya
sekitar satu kilometer dari tempat dia duduk. Kemudian dia meletakan telapak
tangannya di pasir. Meskipun Abu tidak dapat merasakan sentuhan hangat dari
pasir, dia tetap merasakan bisikan pasir yang masuk melalui pori-pori telapak
tangannya. Bisikan itu kini mendarat ke hati dan pikirannya.
“Ibu?”
tanya Abu dalam hati. Dia merasakan kedatangan ibunya dari kejauhan yang tidak
terduga. Lalu dia membiarkan ibunya menghampirinya. Sampai telapak tangan
ibunya yang halus menyapa pundak Abu.
“Aku
tahu. Kamu sudah merasakan kedatangan ibu,” ucap ibunya sambil meletakan
tubuhnya di samping Abu.
“Ada
apa ibu datang ke sini? Apakah aku membangunkan ibu?”
“Jika
kamu tahu tentang keberadaan ibu, maka ibu lebih tahu dari itu. Ibu tahu apa
yang kamu lakukan.”
“Betapa
sulitnya membohongi ibu. Bahkan menyembunyikan perasaanku pun tidak bisa
kulakukan.”
Ibunya
hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kemudian menatap apa yang ditatap oleh
anaknya. Dia mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya. Dia
menyesuaikan suhu tubuhnya dengan tubuh anaknya serta menyesuaikan angin dan
sentuhan malam yang menggerogoti tubuhnya untuk mengetahui perasaan anaknya.
Setelah dia mengerti, dia pun diam tanpa kata dan menunggu ucapan dari Abu.
“Sama
seperti yang dulu. Pertanyaanku masih seperti itu. Apakah aku manusia?” Abu memalingkan
wajahnya ke hadapan ibunya. Sinar mata mereka saling bertabrakan. Ternyata
sinar mata Abu agak melukai mata ibunya. Goresan kecil di mata ibunya membuat
air matanya mengalir keluar secara perlahan.
“Kamu…”
belum sempat ibunya berkata, Abu memotong perkataannya.
“Kulitku
sangat tebal hingga tidak bisa merasakan sentuhan angin. Warna kulitku kuning.
Warna rambutku merah. Mataku juga berwarna merah api. Manusia seperti apa aku
ini?”
“Ibu
menganggap kamu adalah manusia. Kamu adalah ciptaan Tuhan yang dititipkan
kepada ibu. Kamu adalah anak ibu satu-satunya.”
“Tapi
mereka tidak!” Abu sedikit membentak ibunya.
Sepintas
pikirannya terbang melayang kembali kepada masa lalu. Ketika dicaci maki,
dilempar dengan batu, bahkan sempat ingin dibakar hidup-hidup. Untung saja
ketika itu selalu ada ibunya yang menyelamatkannya. Dia membayangkan bahwa
hidupnya tidak ada artinya. Teman satu-satunya yang dia miliki adalah matahari,
malam, burung-burung, pasir, pepohonan dan alam yang bahkan tidak pernah
sekalipun Abu merasakan sentuhannya.
Abu
merasakan alam pun sama seperti dirinya. Tidak ada yang bisa dirasakan tetapi
merakan sakit ketika dilecehkan. Dalam benaknya pun ia bertanya, “Apakah aku
ini bukan manusia? Apakah aku ini seekor alam? Atau sebuah alam? Atau sesosok
alam? Apakah aku ini?” Namun jawaban tidak pernah menjenguk pikirannya. Dia
selalu sampai di jalan buntu. Kemudian kembali lagi ke titik awal. Setelah itu
dia dibutakan oleh manusia-manusia disekitarnya.
Masih
di bumi tempat ia berpijak, Abu menenangkan jiwanya dan membuyarkan lamunannya
sejenak. Tangan ibunya mendekati tangan Abu dengan sentuhan sangat lembut.
“Kamu
merasakannya?”
“Aku
hanya bisa merasakan denyut jantung ibu, darah yang mengalir, jumlah sel yang
berada dalam tubuh ibu, nadi yang berdetak, dan…mmm… Ibu mempunyai luka di
bagian lutut? Coba aku lihat.”
“Sudahlah,
nak. Tidak apa-apa. Ibu hanya jatuh ketika sedang mengangkat pakaian.”
“Mengapa
ibu tidak mengatakannya padaku? Aku bisa membantu menyembuhkan lukamu.”
Ibu
Abu tersenyum lalu berkata, “Itu bukan kelemahanmu, tapi apa yang kamu miliki
adalah kelebihan yang tidak mungkin bisa dilakukan orang lain.”
“Tapi
Bu, seberapa besar kelebihan yang aku miliki tidak akan mengubah pandangan
mereka terhadap tubuhku yang menjijikan ini. Mereka akan tetap menyembunyikan
anak-anak mereka agar tidak mendekati aku. Mereka akan tetap mempersiapkan
batu-batu besar dirumahnya untuk melemparkannya kepadaku setiap aku melewati
rumah mereka,” tidak hanya bibir yang berkata, tetapi seluruh tubuh Abu berkata
panjang lebar mengenai hidupnya.
Selama
ini hidup mereka hanya berdua tanpa seorang ayah. Ayahnya pergi ketika tahu
akan mempunyai seorang anak yang membawa aib dan kesialan. Tetapi ibu Abu tetap
memberikan separuh tenaga dan jiwanya untuk mempelihatkan bumi yang berputar
kepada anaknya. Sebuah kehidupan yang hanya akan dinikmati oleh orang yang
beruntung. Ibunya selalu meyakinkan Abu bahwa tidak ada kesialan bagi sesuatu
yang hidup.
Masih
di bumi dengan malam yang bersemayam, “Cobalah kamu tatap lautan itu. Jangan
lupa untuk melihat langit di atasnya. Betapa akrabnya langit dan laut itu
sehingga bisa menyatu diantara jarak dan kejauhan. Bahkan ketika malam hari
perbedaan mereka sangatlah tipis,” ujar ibunya.
“Lalu?”
tanya Abu yang sedikit bingung dengan perkataan ibunya.
“Itulah
pandangan manusia. Langit yang terpisah dengan laut seakan menyatu satu sama
lain. Tidak ada yang nyata terlihat benar-benar nyata. Mata manusia menipu
manusia itu sendiri. Manusia tidak sempurna. Kamu juga tidak sempurna, bukan?
Maka kamu dan manusia tidak memiliki perbedaan. Kamu bahkan bisa melebihi
mereka yang sering melecehkan kamu.”
Abu
diam bersama pasir yang diam-diam merangkak meninggalkan mereka berdua.
Keheningan malam menyeruak di kalbu Abu yang sulit menerima kenyataan. Namun
jiwanya seakan lebih tenang ketika mendengar perkataan ibunya. Pikrannya
terbuka lebar seluas samudra. Dia pun berpikir, “Apa mungkin inilah sinar bulan
yang aku harapkan keberadaannya sejak awal?” Kemudian Abu memeluk ibunya sangat
erat hingga dapat merasakan hangatnya organ-organ yang bergerak dalam tubuh
ibunya.
“Jangan
pikirkan mereka. Kamu akan semakin kecil dihadapan mereka jika kamu mengeluh.
Berbeda bukan suatu masalah jika itu menjadikannya lebih indah. Kamu mungkin
tidak bisa mendekati mereka secara fisik tapi kamu bisa mendekati mereka secara
batin. Kamu bahkan bisa merasakan perasaan orang-orang disekitarmu. Bangkitlah
nak, jangan merasa kecil! Keindahan dunia yang diciptakan Tuhan untuk manusia
tergantung dari rasa syukur yang diciptakan manusia untuk Tuhannya,” ucap Ibu
Abu.
Dalam
pelukan yang erat, Abu melayangkan pertanyaan kepada ibunya, “Mengapa ibu tidak
tinggalkan aku sendirian? Mengapa ibu terus ingin bersama aku bahkan untuk
selamanya?”
“Cukuplah
alasan ibu hanya satu. Karena kamu adalah alasan Tuhan menciptakan ibu di
bumi.”
Masih
di bumi yang tak pernah terlelap. Pepohonan pun menggugurkan malam seketika.
Kepiting dan siput muncul ke permukaan untuk menyambut matahari datang lebih
awal. Pelukan Abu dengan ibunya dirasakan oleh seluruh alam. Samudra tersenyum
hingga sentuhan tangannya menyapu pergelangan kaki abu untuk bersalaman. Pagi
itu adalah tanda hari baik akan datang di kehidupan Abu.
Surakarta, 20 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar