Kamis, 15 Mei 2014

Biografi Pengarang: Muhammad Bintang Yanita Putra


Oleh: Michelia Alba

     Muhammad Bintang Yanita Putra lahir di Tasikmalaya tanggal 26 Agustus 1993. Dia pernah sekolah di SD Amaliah, SMPN 4 Bogor, SMAN 4 Bogor, dan meneruskan kuliah di Universitas Sebelas Maret. Selain menulis, dia gemar sekali bermain basket dan berenang.
     Pada saat dia masuk ke SMA, dia dikenal sering jahil di kelasnya. Bahkan berkali-kali masuk ke ruang BP karena sering berbuat kesalahan. Tentu saja nilai di sekolah kurang begitu memuaskan. Semakin hari nilainya pun semakin menurun. Sampai akhirnya dia mulai menulis beberapa cerpen dan satu buah novel yang tak kunjung selesai. 
    Kecintaannya pada sastra dimulai sejak kecil. Tepatnya pada saat SD. Ibunya mempunyai beberapa bahan buku bacaan yang terletak di perpustakaan pribadi miliknya. Karya-karya seperti Fredy S, Cassandra, Hilman Hariwijaya, Ayu Utami, dan penulis angkatan 80 sampe 2000 lainnya pernah dia baca saat masih SD. Kegemarannya membaca pada saat SD membuat dia rajin menulis beberapa puisi. Pada saat SMP mulailah dia menulis beberapa puisi. Setidaknya itu dapat mengungkapkan isi hatinya.
Karya-karyanya antara lain Puisi yang berjudul “Pesan dari Situ” dan cerpen yang berjudul “September di Septunus” pernah masuk dalam buku kumpulan cerpen dan puisi “Kukenang Wajahmu”(Media Perkasa, 2013). Cerpen yang berjudul “Lukisan Immaginario” mendapatkan juara II di Festival Budaya 2013. Cerpen yang berjudul “Presiden” pernah masuk dalam koran harian Solopos.  
Selain itu, dia juga berhasil menerbitkan kumpulan cerpen miliknya yang bekerja sama dengan Indie Book Corner yaitu "Tempurung di Tengah Kota" (Yanita Pustaka 'Indie Book Corner', 2014). Empat belas cerpen miliknya ada di dalam buku tersebut. Judulnya antara lain: "Tempurung di Tengah Kota", "Keranjang", "Kali", "Lengan Sepuluh Meter", "Hologram di Atas Bumi Pertiwi", "Ngiung-Ngiung", "Oh Mega", "Titik di Seperdelapan Malam", "Kursi Hitam", "Jalan Terakhir", "Warisan si Aki", "Kandang Kanak-Kanak", "Boneka Yaruhiko", dan "Tanpa Nama"
Sampai saat ini, dia masih rajin menulis karya sastra. Dia selalu mengatakan, "Saya tidak peduli berapa kali saya menulis, berapa kali tulisan saya ditolak media masa, seberapa jelek tulisan saya. Saya hanya takut seandainya suatu saat nanti tidak diizinkan Tuhan untuk menulis lagi. Pada saat itu saya akan hilang tanpa dikenang. Dan saya tidak akan pernah dikenal oleh orang lain setelah tiada."


Rabu, 14 Mei 2014

Promosi Buku: Tempurung di Tengah Kota karya Muhammad Bintang Yanita Putra

Oleh: Michelia Alba


     Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, ibu, ayah, teman-teman saya, serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung saya. Terima kasih juga terhadap IBC (Indie Book Corner) yang sudah repot2 menerbitkan buku saya. Judul buku saya yang pertama ini adalah Tempurung di Tengah Kota. Isinya berupa 14 cerita pendek dengan tema yang berbeda beda. 
     Sebenarnya buku ini saya dedikasikan kepada banyak pihak. Teman-teman SMAN 4 Bogor terutama angkatan 2008. Kemudian guru2 SMAN4 Bogor yang telah dibuat kesal oleh saya. Mungkin ini adalah wujud permintaan maaf saya kepada guru-guru saya. Maklum pada saat SMA dulu, memang saya dikategorikan orang paling bandel. 
    Saya dedikasikan yang lebih utama kepada Ayah saya yang saat ini sedang menikmati makan pagi ditemani aroma matahari yang sejuk di sisi NYA. Tentu saja tak lupa dengan istrinya yang saat ini selalu mendoakan saya di sisi saya saat ini. Dan juga kepada teman SMA 4 yang sekelas dengan saya waktu dulu. Saya sebutkan satu persatu karena saya bisa. Anggita, Fauzan, Sofwan, Naufal alias Opek, Tasya Noormalisya, Rizvi, Faizal, Virna, Istigfarati, Nicky, Ratih, Nawang, Nenu, Isti, Rianty, Boby, Abay, Daru, Pringgo, dan lain-lain. Ternyata saya tak bisa sebutkan satu per satu.
    Semoga karya saya ini dapat bermanfaat, menginspirasi banyak orang dan tentu saja memotivasi penulis penulis berbakat lainnya agar giat menghasilkan karya. Satu kata-kata menarik yang saya pegang teguh, "Tak peduli berpa karya saya yang ditolak media masa. Tak peduli berapa kali saya menulis. Tak peduli karya saya diacuhkan banyak pembaca. Saya hanya takut, suatu saat nanti saya tidak lagi diizinkan Tuhan untuk menulis. Bukan masalah benar dan salah atau baik dan buruk, tetapi menulis adalah sebuah niat yang tulus untuk membagikan seluruh kebahagiaan lewat karya sastra. Saya yakin selama ketulusan dan keikhlasan dalam menulis itu ada, pembaca pun akan tulus membacanya". 
     Isi cerita dalam kumpulan cerpen yang saya buat berkisah mengenai bangsa Indonesia. Temanya bermacam-macam, namun tak lepas dari pesan moral. Saya harap pembaca cukup cerdik untuk menilai karya sastra. Karya sastra itu multi tafsir sehingga penafsiran orang setelah membaca karya sastra berbeda-beda. Tak usah terburu-buru menyimpulkan isi cerita sebelum mengerti latar belakang cerita. Selamat membaca! 
      Buku ini bisa didapatkan dengan harga 40rb rupiah. Pesan langsung di no 08562520915. Terima Kasih. 


Sinopsis Buku:

    "Apalah arti seekor burung yang tidak mungkin mempunyai harta dan nyali untuk menyogok majikannya agar dapat dibebaskan dari kurungan. Seekor burung seperti menerima nasib dan takdirnya di dalam kurungan meskipun merasa tidak bersalah. Namun, apa yang terjadi pada manusia? Dengan harta dan nyali, 'majikan' pun akan bertekuk lutut. Bahkan untuk seorang yang memiliki harta paling tinggi, penjara pun dibuat menjadi istana. Sepertinya mereka dapat bebas kapan saja sesuai dengan kemauannya. Lantas, siapa yang sebenarnya lebih mulia?"
     "Aku tak bisa menuduh apapun. Akupun seorang manusia yang masih sering protes terhadap pemerintah. Sedangkan hidupku sendiri? Hanya menganalisis matahari dibalik gedung. Tak ada yang tahu apakah suatu saat nanti kita benar-benar menjadi manusia yang baik. Mungkin saja jika aku di posisi mereka, akupun akan bertindak seperti itu."


Selasa, 13 Mei 2014

September di Septunus




Oleh: Michelia Alba

Dari kejauhan bintang-bintang menyentuh tanah secara bergerombol. Membuat tanah kering semakin menganga dan menjerit kesakitan. Tidak terdengar  lagi ayunan yang berdecit sempurna. Semua tertidur lelap bersama rumah-rumah yang kian rapuh. Mungkin tawa anak-anak sedang bepergian ke galaksi lain. Kini hanya suara rintihan dan luka yang tergeletak di sepanjang jalan. Pepohonan pun sedang berusaha merapihkan daunnya yang mulai rontok, sedangkan Gunung berapi Zerukhan di Pulau Anthenius mulai memuntahkan laharnya.
Dari kejauhan seseorang datang dengan tergesa-gesa, “Tuan Rafael, Smith sudah datang. Ia berhasil mengalahkan Patrick dan anak buahnya. Saya sudah mengantarkan dia ke kamarnya,” ucap Jammy, seorang anak buah dari Rafael.
Rafael lantas beranjak dari kursi merah miliknya itu. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri bila sesuatu terjadi pada anaknya. Dia tidak bisa melarang anaknya untuk berperang. Tapi hati batu anaknya itu tak bisa dipecahkan begitu saja. Anaknya tetap melanjutkan langkahnya untuk berperang.
Langkah Rafael terhenti,  matanya tergeletak di hadapan anaknya yang terbaring di tempat tidur. Ia duduk disamping kanan anaknya yang sudah tidak berdaya lagi. Hatinya pecah menjadi tujuh kepingan. Tangisan mengalir di sela-sela nadinya, di bilik kanan dan serambi kiri jantungnya dan ada sebagian yang mengalir di hatinya. Ia menyimpan tangisan dengan sangat rapi.  Ada sedikit rasa sesal dan kesal tetapi ada juga rasa bangga terhadap anaknya itu. Kini tangan kiri Rafael mendarat di dahi Smith, lalu mengusapkan jarinya dengan sangat lembut.
“Ayah,” ucap Smith sambil membuka matanya secara perlahan.
“Jangan terlalu banyak berbicara, aku tak mau menangis di tempat ini,” ucap Rafael sambil menahan air mata yang sudah siap menguyur pipinya.
 Smith hanya bisa membuka setengah matanya dan  memperlihatkan sedikit senyuman di wajahnya. Dengan sangat memaksa ia pun mengeja kata demi kata,  “Oh ya, Giblin… ia sedang berada di laboratorium sekarang. Aku tidak bisa membawanya ke sini. Mmm… mungkin itu soal perasaan. Kau bisa mengerti?”
Sebelum melanjutkan percakapan mereka berdua, ledakan besar terjadi dan mengakibatkan gempa sesaat. “Meteor berjatuhan lagi. Ini lebih banyak,” ucap Jammy. Jarak pusat ledakan hanya berkisar 10 kilometer dari tempat mereka berpijak. Daratan bergoyang dahsyat namun tak berlangsung lama.
“Jammy, Jack, Henry! Bawa Smith pergi dari sini. Bawa dia ke kota Radivuz Palace. Semua orang sudah berkumpul di sana. Ada sekitar lima rocket lagi yang belum meluncur ke bumi. Selamatkan dia. Planet ini sudah tidak aman. Dan kau Rommy, ikut bersamaku!”
“Ayah, bagaimana denganmu?” tanya Smith dengan sangat cemas.
“Aku masih harus bertemu dengan Giblin dan melakukan sesuatu.”
“Tapi ayah…”
Rafael hanya meninggalkan senyuman. Tanpa menunggu perkataan balasan dari Smith, Rafael langsung berlari menuju mobilnya. Dia tidak ingin terlambat untuk menemui Giblin sebelum sesuatu terjadi padanya. Kemudian Rommy menyalakan mesinya dan langsung melaju dengan kecepatan penuh ke arah barat.  
Dalam bayangan Rafael, planet ini sudah tak lagi berbentuk. Tak ada lagi yang akan bisa hidup di planet ini. Meteor itu seperti burung yang bebas di angkasa. Semuanya seperti sedang bermain dengan gembira. Mobil Rafael terombang-ambing layaknya berlayar melawan ombak. Namun mobilnya tetap melanjutkan perjalanan ke Laboratorium SLG milik Giblin.

*****

“Gibliiin!” teriak Rafael begitu sampai di ruangan Giblin.
“Hai Rafa, Sampaikan salamku pada Smith. Jika ia tidak ada, mungkin aku sudah tiada,” ucap Giblin dengan santai. Lalu ia bertanya lagi kepada Rafael. “Hmm.. Ada apa kau kesini?”
Rafael jalan mendekati Giblin. Ia terheran-heran melihat sahabatnya itu sedang merebahkan tubuhnya di kursi santai, “Apa… apa maksudmu? Apa… Apa yang kau lakukan?” tanya Rafael terbata-bata melihat tingkah laku sahabatnya itu.
“Apa?” alis mata kiri Giblin mengangkat ke atas, senyuman sombong terlempar dari bibir tebal khas Amerika.
“Kamu duduk di kursi santai tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana pendek. Sementara diluar hujan meteor semakin merajalela. Apa kau sudah gila?” ucap Rafael dengan suara yang agak keras.
“Hahaha.”
“Apa yang lucu? Maksudmu aku yang gila?” Rafael mendekatkan wajahnya ke hadapan Giblin. “Ayolah,  kamu harus pergi dari sini! Planet ini sudah tidak aman. Lihat di luar sana! Semua hancur, semua mati. Planet ini akan kiamat. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Kita juga harus menjauhkan planet ini dari bumi. Jika tidak, serpihan planet ini akan menghancurkan bumi.  Aku tidak pernah mengerti apa jalan pikiranmu,”
Aura panas mundul dari tubuh Rafael. Ia seperti keledai yang sedang berbicara dengan batu raksasa. Sebelum kilat menyambar, batu itu tidak akan sampai terbelah. Namun pengharapan belum dikatakan mustahil. Ia tetap menunggu sahabatnya untuk keluar dari tempat itu.
“Ini laboratorium milikku. Seharusnya kau yang keluar dari sini!” Kali ini otot-otot Giblin sudah mulai berkontraksi. Darah semakin mengalir kian cepat, seolah-olah tergesa-gesa untuk sampai dikerongkongan. Matanya tidak bersahabat lagi, seakan ingin menerkam harimau yang sedari tadi mencakar wajahnya.
“Tapi aku yang membuat laboratorium ini!” bentak Rafael seakan tak mau kalah dengan serigala di hadapanya.
“Hey… Tak pernahkah kamu lihat pemandangan seindah ini? Lihat di luar sana bagai sakura di sore hari. Semuanya tersenyum, menampakan kepakan sayapnya yang indah. Mereka menari dan senantiasa menghiburku. Oh coba kau dengar ledakan di luar sana. Selama aku hidup aku tak pernah mendengar lagu seindah itu,” ucap Giblin. Ia pun tak tahu harus senang atau sedih dalam kondisi ini. ”Lihat itu! Lebih indah dari kembang api,” ia mengacungkan telunjuknya ke arah jendela.
“Baik sudah cukup. Sekarang ayo ikut aku!” Rafael menarik pergelangan tangan Giblin dengan sangat kuat. Namun ternyata raga dan jiwa Giblin menolak sentuhan itu. Secara refleks, tangan Giblin berkelit dan sebuah dorongan keras diletakan tepat di dada Rafael. Rafael terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh. Untung saja masih ada kursi putar yang menyangga tubuhnya.
“Aku bahagia disini. Lantas biarkan aku hidup dan mati di planet ini. Planet ini adalah ciptaan kita. Ciptaan manusia. ” Giblin mendekati Rafael dengan kemarahan yang sudah menjalar di sepanjang darahnya. Kemudian mulutnya kembali berbisa, “Pergi dari sini sekarang juga!” kata-kata Giblin sedikit membuat sahabatnya terkena gangguan otak sesaat.
Rafael terdiam sejenak mendengar lontaran kata seperti itu. Otak dan hati seakan hancur dan berserakan di laboratorium. Dia berusaha memungutnya lagi dan menyusunnya satu persatu. Lalu ia mulai kembali mengeja kata demi kata, “Jika Septunus hancur, bumi akan merasakan akibatnya. Aku harus menjauhkan Septunus dari bumi.” Rafael berusaha mengangkat tubuhnya kembali tegak berdiri. “Aku yang salah. Hanya atas tangan Tuhan lah planet bisa dikendalikan. Aku salah menciptakan ini.”
“Sudahlah, aku tak percaya Tuhan. Kamu tahu itu sejak dulu. Bahkan aku ciptakan dewa dikalangan penduduk Septunus,” suara Giblin lebih tegak dari semula. Seakan menggema diseluruh planet Septunus. “Karna aku tidak percaya Tuhan, maka aku yang kendalikan,” lanjutnya. Suara Giblin mengecil dan wajahnya tiba-tiba ramah seketika.

*****

Tidak seperti biasanya, langit menggambar Septunus dengan warna merah. Burung-burung berenang di angkasa bersama mega dan halilintar. Sementara itu pepohonan kini tak lagi merdu, suaranya serak. Hari sudah mulai menutup matanya. Danau dan rawa sudah siap-siap untuk menarik selimutnya. Lahar-lahar panas sudah mulai membeku meskipun suaranya terdengar sangat panas di telinga Giblin.
Giblin kembali meletakan tubuhnya di kursi santai, sementara Rafael terdiam kaku berdiri di samping kanan Giblin. Ia merasa seperti benda mati atau radio usang yang sudah tak terpakai. Ia meletakan fokus matanya jauh ke depan menembus kaca jendela berukuran sangat besar. Tak ada lagi yang berbicara. Hanya terdengar suara cangkir kopi yang bergetar di atas meja kecil yang diletakan tepat disebelah kiri Giblin. Selebihnya suara meteor jatuh dan gemuruh yang sangat dahsyat di luar sana.
“Mau kopi hangat?” tawaran Giblin itu sedikit meredakan emosi yang sempat memanas. Namun Rafael tetap diam seribu bahasa menunggu kata-kata selanjutnya yang terlontar dari mulut Giblin.
Giblin membiarkan kopi hangatnya mengalir melalui tenggorokannya, lalu ia mulai menggerakan lidahnya lagi, “Bulan September… bulan ini mengingatkan aku pada tanggal 27 September 2170. Kita menemukan sebuah planet mendekati bumi. Jauh lebih dekat dari bulan. Lalu kita memikirkan bagaimana caranya agar bisa sampai di planet itu.”
“Sudahlah, hentikan…” ucap Rafael sambil memandang wajah Giblin.
Giblin menoleh dan menatap mata Rafael begitu dalam. Matanya seolah-olah berkata, “Biarkan aku bercerita.” Kemudian Rafael  kembali melempar pandangan matanya lurus ke depan. Ia berusaha mendengarkan perkataan Giblin.
“Akhirnya kita mendarat juga di planet ini. Lalu kita beri nama planet Septunus. Gunung yang berapi, lautan yang luas, bunga yang cantik, serta gravitasi dan ozon yang meyakinkan kita untuk bernafas. Sungguh tiruan bumi yang nyata.” Giblin diam sejenak. Ia mengangkat kepalanya lalu mengalihkan matanya ke langit-langit. Ia berusaha menata kembali kata-kata yang hendak diucapkan. Mulutnya mulai berkicau kembali, “Dulu aku tidak percaya sepenuhnya kepadamu. Aku tidak yakin kamu dapat membuat alat pengendali planet.”
“Aku tahu, itulah sebabnya waktu itu aku sempat memukul wajahmu yang manis itu,” ucap Rafael dengan wajah tanpa ekspresi. Kaca jendela yang ia tatap sedari tadi menggambarkan hari kiamat yang nanti akan datang kepadanya. Ia terpaku di sana tanpa tahu harus melakukan apa. Satu-satunya yang terlintas dalam benaknya adalah bagaimana cara membawa temannya itu keluar dari Septunus.
 “Jangan terlalu banyak berharap, kamu pikir aku tidak akan membalasnya? Jangan khawatir aku pasti membalasnya, ” Giblin menaikan badannya ke posisi duduk dan mengambil secangkir kopi yang sudah mulai hangat.
Setelah mengatur nafas dan emosinya yang sempat berantakan, Rafael kembali mengatakan apa yang ia rasakan, “Aku menyesal mengajak sebagian dari makhluk bumi pindah ke planet ini. Dulu aku pikir dengan adanya planet ini, manusia tidak akan lagi serakah, tidak akan lagi berperang, dan mereka akan selalu damai. Bahkan Patrick, sahabat kita saja ingin memiliki planet ini seutuhnya.”
“Apa yang kau harapkan dari makhluk bumi seperti kita? Dimanapun tetap sama. Manusia tidak akan merasa cukup meski sudah diberi kecukupan. Mereka memaksakan kehendak mereka sendiri. Tak ada yang bisa menyatu dengan bumi. Tak ada yang bisa merasakan dan menghargai hal-hal yang sebenarnya bisa menghidupinya.”
 “Aku pikir jika bumi hancur, planet inilah jawabannya. Sebuah masa depan yang cerah. Tapi justru bumi lah yang masih tetap hidup. Aku terlalu munafik untuk meninggalkan bumi. Tempat ini palsu. Hanya sementara.” Rafael memasukan tangannya ke saku celana jean berwarna biru miliknya itu dan melanjutkan kata-katanya, “Aku sadar, jika bumi hancur maka semuanya akan hancur. Semuanya akan kembali kepada Tuhan. Termasuk planet ini. Bumi masih terlalu indah untuk ditinggalkan. Andai saja manusia lebih bisa mengerti dan  merawat apa yang dimilikinya dengan baik.”
“Baik, sudah cukup untuk hari ini. Antarkan aku pergi dari tempat ini,” ucap Giblin yang langsung bergegas menghabiskan kopinya.
Mereka berdua berlari keluar dari laboratorium. Rafael menemani temannya itu hingga pintu keluar. Sepanjang langkah ia bertanya-tanya apa yang membuat Giblin merubah pikirannya secepat itu. Entah ada malaikat apa yang bisa mengalahkan setan secepat itu. Atau itu bukan malaikat melainkan bidadari yang mampu mengetuk hatinya? Otaknya benar-benar bekerja keras untuk memikirkan hal itu. Tapi ia mengaggapnya sebagai anugerah.
Derap langkah kaki mereka tidak lagi terdengar saat sampai di ujung pintu keluar.  “Aku lupa, ada yang tertinggal,” ucap Giblin. Giblin memutar arah ke belakang secara cepat. Karena penasaran, Rafael pun memalingkan tubuhnya ke belakang. Namun hal yang tidak disangka sebelumnya, pukulan keras menghantam pipi Rafael. Ia pun terlontar jauh keluar pintu.
“Apa…apa yang kamu lakukan?” ucap Rafael terbata-bata sambil memegangi pipnya yang lebam itu.
“Sudah kubilang, aku akan membalasnya,” ucap Giblin sambil menatap Rafael dengan penuh kebencian. Ia langsung menutup pintu laboratorium dan menuju ruang kendali planet.
Rafael bangkit lagi dari jatuhnya. Ia langsung mendobrak pintu yang terbuat dari baja itu. Namun aliran listrik memaksa tubuhnya kembali terpelanting dan tersungkur ke tanah. “Sial, atas dasar apa aku membuat pintu baja beraliran listrik?” ia menggerutu kepada dirinya sendiri.
“Gibliiin! Buka pintunyaaa!” teriak Rafael. Ia pun kembali mendobrak pintu itu meskipun ia tahu Giblin tidak akan mendengar perkataannya. Aliran listrik membuat tubuhnya semakin kaku. Darahnya seperti menjadi es dan otaknya seakan tak lagi berfungsi. Namun ia tetap mendobrak sekuat tenaga.
“Gibliiiin!” suaranya habis. Matanya sudah tak sanggup berbicara. Yang terakhir ia rasakan, planet bergerak sedikit-demi sedikit. Namun ia tetap mencoba berkali-kali mendobrak pintunya. Ia merasa sudah tidak mungkin lagi pintu itu terbuka. Jantungnya mulai berpacu dengan cepat karena aliran listrik yang sangat kuat berkali-kali menyerangnya.
Suara samar-samar tiba-tiba datang menghinggapi telinganya yang lumpuh. “Tuan… !!” teriak Rommy. Namun tidak ada balasan dari mulut Rafael. Nampaknya bibir dan lidahnya mulai menyatu dan membeku. Rommy langsung memasukannya ke dalam mobil. Lalu pergi dari tempat itu.
Septunus kini bergerak menjauh dari bumi. Wajahnya sudah hancur lebur bahkan lebih rusak daripada bumi. Ledakan besar pun terjadi. Bumi bergetar sangat hebat, sementara suara ledakannya bergetar disetiap telinga makhluk bumi. Namun bumi tetap aman karena Septunus hancur bersama Giblin yang melakukan tugasnya dengan baik.

Surakarta, 25 April 2013
 (Pernah dimuat di buku kumpulan cerpen dan puisi Kukenang Wajahmu)

Minggu, 11 Mei 2014

Abu yang Menguning


Oleh: Michelia Alba

Abu merenung di kesunyian malam. Tanpa henti dia menguraikan bait-bait doa dengan indah. Semakin dia berdoa, semakin deras tetesan air mata yang mengalir. Matanya masih berkaca-kaca ketika melihat pepohonan melambaikan tangannya untuk ikut bersamanya. Juga awan yang sedang berjalan-jalan terbawa angin. Dalam pertengahan doanya, dia mempertanyakan keberadaan bulan yang sejak tadi tidak menyapanya.
Masih di bumi yang berputar, dia berjalan keluar rumah. kakinya menghantam pasir dan rerumputan silih berganti. Kemudian sampailah dia di sebuah rumah yang berwarna hijau. Dia melihat dua orang anak yang sedang bermain kembang api. Sebelum sempat mulutnya terbuka lebar untuk menyapa, ibu dari kedua anak tersebut keluar.
“Ayo masuk, jangan main diluar! Itu ada orang aneh. Ayo cepat masuk!” ucap seoarang ibu dari kedua anak itu seraya menatap Abu secara kasar.
Abu menundukan kepalanya dan mulai berjalan lurus kembali. Udara yang dingin menusuk kulit orang-orang desa, tetapi tidak pada Abu. Dia tidak merasakan sentuhan angin dan sentuhan apapun disekujur tubuhnya. Kulitnya mati rasa tak berbekas. Bahkan ketika dia terkena air panas dari termos, kulitnya tidak terkelupas sama sekali. Hingga saat ini ia merasa kesulitan untuk membedakan kasar dan halus.
Abu duduk di pesisir pantai Katingga dekat desanya. Dia menatap luasnya lautan yang dingin serta pepohonan yang sedang tertidur. Ingin rasanya Abu membangunkan mereka semua lalu bernyanyi bersama seperti di pagi hari. Namun itu mungkin akan sangat menganggu waktu istirahatnya.
Dari kejauhan, Abu mendengar suara langkah seseorang. Orang itu seperti ingin mendekatinya. Telinga Abu semakin melebar. Suaranya menunjukan bahwa jaraknya sekitar satu kilometer dari tempat dia duduk. Kemudian dia meletakan telapak tangannya di pasir. Meskipun Abu tidak dapat merasakan sentuhan hangat dari pasir, dia tetap merasakan bisikan pasir yang masuk melalui pori-pori telapak tangannya. Bisikan itu kini mendarat ke hati dan pikirannya.
“Ibu?” tanya Abu dalam hati. Dia merasakan kedatangan ibunya dari kejauhan yang tidak terduga. Lalu dia membiarkan ibunya menghampirinya. Sampai telapak tangan ibunya yang halus menyapa pundak Abu.
“Aku tahu. Kamu sudah merasakan kedatangan ibu,” ucap ibunya sambil meletakan tubuhnya di samping Abu.
“Ada apa ibu datang ke sini? Apakah aku membangunkan ibu?”
“Jika kamu tahu tentang keberadaan ibu, maka ibu lebih tahu dari itu. Ibu tahu apa yang kamu lakukan.”
“Betapa sulitnya membohongi ibu. Bahkan menyembunyikan perasaanku pun tidak bisa kulakukan.”
Ibunya hanya bisa tersenyum mendengarnya. Kemudian menatap apa yang ditatap oleh anaknya. Dia mencoba merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya. Dia menyesuaikan suhu tubuhnya dengan tubuh anaknya serta menyesuaikan angin dan sentuhan malam yang menggerogoti tubuhnya untuk mengetahui perasaan anaknya. Setelah dia mengerti, dia pun diam tanpa kata dan menunggu ucapan dari Abu.
“Sama seperti yang dulu. Pertanyaanku masih seperti itu. Apakah aku manusia?” Abu memalingkan wajahnya ke hadapan ibunya. Sinar mata mereka saling bertabrakan. Ternyata sinar mata Abu agak melukai mata ibunya. Goresan kecil di mata ibunya membuat air matanya mengalir keluar secara perlahan.
“Kamu…” belum sempat ibunya berkata, Abu memotong perkataannya.
“Kulitku sangat tebal hingga tidak bisa merasakan sentuhan angin. Warna kulitku kuning. Warna rambutku merah. Mataku juga berwarna merah api. Manusia seperti apa aku ini?”
“Ibu menganggap kamu adalah manusia. Kamu adalah ciptaan Tuhan yang dititipkan kepada ibu. Kamu adalah anak ibu satu-satunya.”
“Tapi mereka tidak!” Abu sedikit membentak ibunya.
Sepintas pikirannya terbang melayang kembali kepada masa lalu. Ketika dicaci maki, dilempar dengan batu, bahkan sempat ingin dibakar hidup-hidup. Untung saja ketika itu selalu ada ibunya yang menyelamatkannya. Dia membayangkan bahwa hidupnya tidak ada artinya. Teman satu-satunya yang dia miliki adalah matahari, malam, burung-burung, pasir, pepohonan dan alam yang bahkan tidak pernah sekalipun Abu merasakan sentuhannya.
Abu merasakan alam pun sama seperti dirinya. Tidak ada yang bisa dirasakan tetapi merakan sakit ketika dilecehkan. Dalam benaknya pun ia bertanya, “Apakah aku ini bukan manusia? Apakah aku ini seekor alam? Atau sebuah alam? Atau sesosok alam? Apakah aku ini?” Namun jawaban tidak pernah menjenguk pikirannya. Dia selalu sampai di jalan buntu. Kemudian kembali lagi ke titik awal. Setelah itu dia dibutakan oleh manusia-manusia disekitarnya.
Masih di bumi tempat ia berpijak, Abu menenangkan jiwanya dan membuyarkan lamunannya sejenak. Tangan ibunya mendekati tangan Abu dengan sentuhan sangat lembut.
“Kamu merasakannya?”
“Aku hanya bisa merasakan denyut jantung ibu, darah yang mengalir, jumlah sel yang berada dalam tubuh ibu, nadi yang berdetak, dan…mmm… Ibu mempunyai luka di bagian lutut? Coba aku lihat.”
“Sudahlah, nak. Tidak apa-apa. Ibu hanya jatuh ketika sedang mengangkat pakaian.”
“Mengapa ibu tidak mengatakannya padaku? Aku bisa membantu menyembuhkan lukamu.”
Ibu Abu tersenyum lalu berkata, “Itu bukan kelemahanmu, tapi apa yang kamu miliki adalah kelebihan yang tidak mungkin bisa dilakukan orang lain.”
“Tapi Bu, seberapa besar kelebihan yang aku miliki tidak akan mengubah pandangan mereka terhadap tubuhku yang menjijikan ini. Mereka akan tetap menyembunyikan anak-anak mereka agar tidak mendekati aku. Mereka akan tetap mempersiapkan batu-batu besar dirumahnya untuk melemparkannya kepadaku setiap aku melewati rumah mereka,” tidak hanya bibir yang berkata, tetapi seluruh tubuh Abu berkata panjang lebar mengenai hidupnya.
Selama ini hidup mereka hanya berdua tanpa seorang ayah. Ayahnya pergi ketika tahu akan mempunyai seorang anak yang membawa aib dan kesialan. Tetapi ibu Abu tetap memberikan separuh tenaga dan jiwanya untuk mempelihatkan bumi yang berputar kepada anaknya. Sebuah kehidupan yang hanya akan dinikmati oleh orang yang beruntung. Ibunya selalu meyakinkan Abu bahwa tidak ada kesialan bagi sesuatu yang hidup.
Masih di bumi dengan malam yang bersemayam, “Cobalah kamu tatap lautan itu. Jangan lupa untuk melihat langit di atasnya. Betapa akrabnya langit dan laut itu sehingga bisa menyatu diantara jarak dan kejauhan. Bahkan ketika malam hari perbedaan mereka sangatlah tipis,” ujar ibunya.
“Lalu?” tanya Abu yang sedikit bingung dengan perkataan ibunya.
“Itulah pandangan manusia. Langit yang terpisah dengan laut seakan menyatu satu sama lain. Tidak ada yang nyata terlihat benar-benar nyata. Mata manusia menipu manusia itu sendiri. Manusia tidak sempurna. Kamu juga tidak sempurna, bukan? Maka kamu dan manusia tidak memiliki perbedaan. Kamu bahkan bisa melebihi mereka yang sering melecehkan kamu.”
Abu diam bersama pasir yang diam-diam merangkak meninggalkan mereka berdua. Keheningan malam menyeruak di kalbu Abu yang sulit menerima kenyataan. Namun jiwanya seakan lebih tenang ketika mendengar perkataan ibunya. Pikrannya terbuka lebar seluas samudra. Dia pun berpikir, “Apa mungkin inilah sinar bulan yang aku harapkan keberadaannya sejak awal?” Kemudian Abu memeluk ibunya sangat erat hingga dapat merasakan hangatnya organ-organ yang bergerak dalam tubuh ibunya.
“Jangan pikirkan mereka. Kamu akan semakin kecil dihadapan mereka jika kamu mengeluh. Berbeda bukan suatu masalah jika itu menjadikannya lebih indah. Kamu mungkin tidak bisa mendekati mereka secara fisik tapi kamu bisa mendekati mereka secara batin. Kamu bahkan bisa merasakan perasaan orang-orang disekitarmu. Bangkitlah nak, jangan merasa kecil! Keindahan dunia yang diciptakan Tuhan untuk manusia tergantung dari rasa syukur yang diciptakan manusia untuk Tuhannya,” ucap Ibu Abu.  
Dalam pelukan yang erat, Abu melayangkan pertanyaan kepada ibunya, “Mengapa ibu tidak tinggalkan aku sendirian? Mengapa ibu terus ingin bersama aku bahkan untuk selamanya?”
“Cukuplah alasan ibu hanya satu. Karena kamu adalah alasan Tuhan menciptakan ibu di bumi.”
Masih di bumi yang tak pernah terlelap. Pepohonan pun menggugurkan malam seketika. Kepiting dan siput muncul ke permukaan untuk menyambut matahari datang lebih awal. Pelukan Abu dengan ibunya dirasakan oleh seluruh alam. Samudra tersenyum hingga sentuhan tangannya menyapu pergelangan kaki abu untuk bersalaman. Pagi itu adalah tanda hari baik akan datang di kehidupan Abu.

Surakarta, 20 Juli 2013






Sabtu, 10 Mei 2014

Foklor Makam Kramat Kebun Raya Bogor


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi dan Perkembangan Folklor

1.      Deskripsi dan sejarah perkembangan makam keramat

Di daerah Kebun Raya Bogor terdapat makam yang dikeramatkan. Namun masyarakat sekitar bahkan banyak yang belum mengetahuinya. Ada tiga makam dan makam ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir dari Ibu Ratu Galuh Mangku Alam. Dia adalah istri dari Sri Baduga Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Padjajaran. Makam keramat yang kedua ialah makam Mbah Japra. Sementara yang ketiga adalah makam Mbah Ba’ul yang merupakan patih dari Sri Baduga Prabu Siliwangi. Ketiga makam tersebut mempunyai satu juru kunci dan dua orang perawat makam.
Ketiga makam membentuk kompleks pemakaman kecil yang dilindungi pagar besi. Meski berada di sekitar areal kebun raya, makam ini bukan bagian dari kebun raya dan pemeliharaannya sendiri diluar tanggung jawab kebun raya. Kompleks makam terletak di bawah kerimbunan pohon-pohon besar. Oleh karena itu, meski dalam keadaan terik sekalipun, makam tetap dalam kondisi yang sejuk. Makam terbesar adalah makam Ratu Galuh, yang letaknya paling dekat pintu pagar besi dan dilengkapi perallatan tempat para peziarah berdoa. Makam Mbah Jepra berada di sebelahnya tetapi berada dibagian lahan lebih tinggi. Sementara yang berada di sebelah kanan makam Ratu Galuh dan Mbah Jepra adalah makam Mbah Ba’ul.
Ketiga makam tersebut tidak mempunyai nama lengkap yang jelas di sebuah nisan, namun kini makam tersebut berlapis lantai keramik yang mempunyai perbedaan masing-masing. Patung semen warna emas berbentuk mahkota menghiasi makam Ratu Galuh, sementara makam Mbah Jeprah mempunyai hiasan yang berbentuk prisai dan ujung tombak. Mbah Ba’ul pun dihias dengan patung semen berupa cangkul dan nasi tumpeng. Dari semua hiasan tersebut sebenarnya tidak mempunyai makna apapun hanya sebagai pembeda antara ketiga makam, namun makna-makna itu bisa diambil dari setiap orang yang menilainya. Tentu saja setiap orang akan memaknai dengan makna yang berbeda karena mempunyai penilaian masing-masing.
Siapakah Mbah Jepra? Mbah Jepra bukanlah orang yang bisa menguasai daerah, juga bukan orang yang sampai sekarang masih hidup. Mbah Jepra adalah seorang tokoh yang hidup pada abad ke 15, di zaman Kerajaan Pajajaran. Beliau adalah seorang panglima perang pasukan Sri Baduga Prabu Siliwangi. Seperti halnya Prabu Siliwangi, masyarakat mengenal Mbah Jeprah adalah sosok seorang yang sakti mandraguna. Sebagian orang meyakini bahwa kesaktian Mbah Jepra masih bisa berpengaruh pada kehidupan manusia di dunia saat ini terutama di Kota Bogor sendiri.
Ada cerita yang beredar bahwa nama asli Mbah Jeprah adalah Syekh Jafar Sidik. Namun sampai sekarang ini belum ditemukan bukti yang memastikan bahwa Mbah Jeprah memang seorang tokoh yang ada di sepanjang sejarah Kerajaan Pajajaran. Lalu belum ada yang menunjukan kebenaran bahwa yang selalu mengamankan Kota Bogor dari segala bencana adalah roh dari Mbah Jepra. Dari sebagian kecil masyarakat mengatakan bahwa Mbah Jeprah sebenarnya tidak pernah ada dalam sejarah Kerajaan Pajajaran. Ia hanya hasil tokoh rekaan dari penduduk sekitar Pajajaran. Bahkan ada cerita lain yang menyebukan bahwa sebenarnya makam Mbah Jepra bukanlah seorang manusia melainkan seekor jerapah. Jerapah ini dahulu pernah dipelihara pada zaman belanda, namun satwa liar itu kemudian mati dan dikubur sekitar makam tersebut.
Juru kunci makam keramat ini tidak terlalu menanggapi issue yang ada di sekitarnya, beliau meyakini adanya Mbah Jepra dan hanya menjalankan wasiat dari juru kunci sebelumnya untuk menjaga makam tersebut. Beliau adalah Abdurrahman yang merupakan keturunan kedua dari juru kunci makam keramat. Sebelumnya yang menjadi juru kunci makam adalah H Rahmat, ayah dari Abdurrahman. Sedangkan yang menjadi perawat makam keramat saat ini dipegang Atmawijaya dan Ugan, yang masih ada hubungan saudara juru kunci. Ketiga makam ini merupakan bukti sejarah adanya kekuasaan Kerajaan Padjajaran di Kota Bogor. Makam keramat ini sering didatangi oleh pengunjung. Tujuan dari mereka pun bermacam–macam.

Menurut  Abdurrahman pengunjung ada yang sekadar bersilaturahmi atau sedang melakukan napak tilas. Namun ada juga yang datang dengan maksud dan tujuan tertentu. Biasanya mereka yang datang dengan maksud dan tujuan tertentu itu kebanyakan berasal dari luar kota Bogor. Dulu ada juga yang sering berkunjung ke makam pada malam hari. Dia mengatakan, tak ada syarat khusus jika ingin mengunjungi makam keramat ini. "Asalkan tubuh kita bersih dari hadas dan disertai dengan niat yang baik," ujar Abdurrahman.
Lebih lanjut dia menuturkan, ada cerita menarik terkait makam keramat ini. "Jika ada orang yang ingin berkunjung dan sebelumnya sudah janjian, biasanya pasti tidak jadi. Tak tahu alasannya mengapa, yang pasti kunjungan ke makam keramat ini selalu gagal bila janjian dulu," papar perawat makam ini. Mengenai Mbah Japra, Abdurahman menuturkan bisa dikatakan sebagai penjaga Kota Bogor. "Dipercaya Kota Bogor ada yang menjaga, Mbah Japra," ujarnya. Hal itu terbukti, dari keberadaan Bogor yang terbilang aman-aman saja.
Kejadian aneh Menurut Abdurahman (51), juru kunci makam Ratu Galuh, banyak orang hilir mudik di Kebun Raya, bahkan di sekitar makam Ratu Galuh itu sendiri. Mereka tak menyadari jika tempat yang mereka pijak adalah wilayah keramat dari kerajaan Galuh Pakuan. Mereka hura-hura, pacaran, bahkan buang air kecil di sembarang tempat. Belum lagi perlakuan semberono lainnya. Abdurahman menceritakan, pernah salah seorang pengujung tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri dan ketika siuman suaranya berubah. Kebun Raya Bogor memang bukan tempat sembarangan. Kawasan itu masih dinaungi karomah Eyang Ratu Galuh. "Ternyata dia kemasukan dedemit penjaga jembatan gantung,” kata Abdurrahman.
Memang banyak pengunjung mengalami kejadian aneh yang sulit diterima oleh akal sehat. Beberapa waktu lalu, dua orang muda-mudi sedang asyik bercumbu di bawah pohon waru besar. Sang pria pamit untuk buang air kecil, namun ketika kembali ia tak menemukan kekasihnya. Bahkan setelah ditunggu berjam-jam sang kekasih itu tak pula kunjung datang. Karena putus asa, lelaki yang bernama Abidin itu langsung pulang.
Esok harinya, dengan keluarganya dan keluarga pacarnya ia kembali mencari-cari ke setiap pelosok kebun tersebut. Hasilnya tetap nihil, bahkan saat itu petugas keamanan Kebun Raya pun ikut membantu mencari gadis yang hilang tadi. Sayang, hingga hari menjelang sore sang gadis-tetap tidak diketahui di mana rimbanya. Lalu seorang petugas keamanan berinisiatif minta bantuan juru kunci makam Ratu Galuh. Setelah diselidiki sang juru kunci, gadis yang sebut saja bernama Nita itu, ternyata masih ada di sekitar Kebun Raya.
Dari hasil komunikasi juru kunci dengan makhluk gaib penghuni Kebun Raya diketahui, ternyata Abidin dan Nita, beberapa saat sebelum Nita menghilang keduanya sempat melakukan perbuatan tidak senonoh. Mereka sempat melakukan hubungam layaknya suami isteri. Dengan sangat menyesal, Abidin mengakui segala perbuatannya. Melalui proses yang cukup rumit, akhirnya juru kunci pun mempersilahkan mereka kembali. Abdurahman mengatakan kepada keduanya, "Jika penghuni gaib itu, mengampuni perlakuan kalian, Nita akan kembali besok sore. Namun jika tidak Nita akan menjadi budak di alam gaib."
Kebun Raya Bogor memang menyimpan sejuta misteri, beberapa tempat angker di sana masih dihuni makhluk halus sebagai tempat tinggal mereka. Abdurahman menyarankan agar pengunjung Kebun Raya tidak sembrono dan jangan sekali-kali berlaku tidak senonoh. Kalaupun kelakuan tak senonoh itu tidak diketahui orang lain, namun hal itu tetap diketahui makhluk halus penghuni Kebun Raya ini. "Kebun ini dibangun sebagai tempat rekreasi dan istirahat keluarga. Kalau pun mau pacaran silahkan, tapi jangan kelewatan," tuturnya.
Masih menurut penuturan Abdurahman, kerajaan makhluk halus penghuni Kebun Raya Bogor terpusat di makam Ratu Galuh. Dalam sejarah tak tertulis Kerajaan Galuh Pakuan, Ratu Galuh dipercaya sebagai permaisuri Eyang Prabu Siliwangi. Namun tidak ada sedikitpun catatan yang dapat membuktikan eksistensi Ratu Galuh sebagai isteri Sang Prabu Siliwangi. Bahkan keberadaan sang prabu sendiri masih menjadi pertanyaan di masyarakat. Namun demikian toh masyarakat Jawa Barat tetap mengakui eksisteni Prabu Siliwangi sebagai raja dan cikal bakal nenek moyang mereka. Bahkan, beberapa kalangan spiritualis meyakini, Kebun Raya Bogor semula adalah Taman Sipatahunan, Taman Sari dari kerajaan Galuh Pakuan.

Mengenai Mbah Japra, Abdurahman menuturkan bisa dikatakan sebagai penjaga Kota Bogor. "Dipercaya Kota Bogor ada yang menjaga, Mbah Japra," ujarnya. Hal itu terbukti, dari keberadaan Bogor yang terbilang aman-aman saja. Adanya keyakinan inilah, yang menyebabkan banyak orang menziarahi makam Mbah Japra. Menurutnya, mereka yang paling banyak berziarah ke makam Mbah Japra adalah para pejabat dan paranormal. Namun warga biasa juga banyak yang datang. Menziarahi makam Mbah Japra sebenarnya hanya perantara antara Tuhan dan manusia. "Semuanya hanya Allah yang menentukan, bukan kuburan. Jadi jangan minta-minta sama makam, tapi kepada Allah," kata Abduraman
2.      Kisah Nyata Sekitar Makam

Sekitar tahun 2000-an ditemukan tewasnya sepasang kekasih di Kebun Raya Bogor. Pasangan tersebut saat itu sedang memadu kasih di bawah pohon randu. Ketika hujan mulai turun dengan derasnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa mereka lakukan hanya berteduh disana. Namun yang terjadi mereka berdua terkena sambaran petir dan terjepit ranting besar yang menimpah tubuh mereka. Akhirnya mereka tewas di tempat dengan keadaan yang mengenaskan.

Para petugas keamanan dan polisi langsung datang ke lokasi kejadian. Keadaannya sudah terluka parah dan banyak terjadi luka bakar disekujur tubuhnya. “Mereka mungkin melakukan tindakan yang kelewat batas, jadi istilahnya mah ditegur oleh Yang Maha Kuasa.” Tutur Abdurahman. Setelah ditelusuri sang prianya sudah mempunyai istri, sedangkan kekasihnya adalah seorang janda.
Kejadian itu pun terulang kembali pada tahun 2009-an. Pada saat itu ditemukan dua orang korban di dekat Danau Gunting yang disinyalir adalah sepasang kekasih. Mereka berteduh di bawah pohon Lici ketika hujan mulai turun. Korban pria ditemukan dalam kondisi telungkup dengan muka yang sudah bercampur darah, sedangkan korban wanita ditemukan dengan posisi terlentang dengan wajah yang bengkak. Ketika diteliti lebih lanjut oleh pihak yang berwajib, ternyata korban pria sudah mempunyai istri yang tinggal di Ponorogo.
“kedua-duanya sama-sama melakukan tindakan yang mungkin kelewat batas. Ini semua ada kaitannya dengan Mbah Jeprah yang menurut mitos dialah yang menjaga kebun raya Bogor dari perbuatan yang keji. Maka dari itu, mereka memberi pelajaran dan peringatan seperti itu yang melanggar kesucian. Keduanya juga sama-sama selingkuh yang sebenarnya dilarang oleh ajaran-ajaran agama. Jangan berbuat yang aneh-aneh disini meskipun tidak ada yang melihat, sebab Tuhan dan makhluk halus bisa saja melihat apa yang kita lakukan.” Kata Abdurahman menjelaskan.