Jumat, 04 Juli 2014

Cicak


Oleh: Michelia Alba

“Pokoknya ini yang terakhir kalinya,” ucapku sambil memohon-mohon kepada atasanku.
Tenan?” tanya atasanku.
Kepercayaan atasanku sepertinya mulai hilang. Mungkin itu adalah kesalahanku juga. Berkali-kali ucapan ‘yang terakhir’ aku ungkapkan. Namun perbuatan itu selalu saja diulangi. Bukannya aku tidak bisa, tapi kebiasaanlah yang membuatku seperti itu. Seperti misalnya hari Senin lalu ketika aku ingin berangkat ke kantor. Aku melihat seorang nenek yang berjalan dengan sekarung sampah tepat berada di punggungnya. Bibirnya memutih seperti sudah memakan satu kilogram terigu. Tidak jauh beda dengan warna rambutnya. Kakinya yang serba lecet tidak digubris olehnya. Jalan berbatu pun terus dia tempuh.
“Mau saya bantu nek?” itulah yang pertama kali aku katakan padanya. Awalnya dia menolak, namun setelah kupaksa akhirnya dia bersedia menaiki motorku yang sederhana. Kuantar dia sampai rumah kardusnya yang entah akan tinggal di mana nenek itu jika hujan datang. Ternyata karung sampah itu berisi sepenggal makanan bekas. Rencananya ingin dia bagikan kepada keluarga yang lain.
Nenek itu memang selalu datang ke tempat pembuangan sampah sekitar jam tiga pagi. Memungut sisa-sisa makanan yang terkadang disertai dengan kotoran makhluk hidup. Baunya seakan sudah tidak berbeda satu sama lain. Tercampur menjadi satu namun tetap menjadi makanan empuk untuk si Nenek.
“Ya dari mana lagi saya mencari uang? Saya tidak mempunyai apa-apa lagi. Mungkin ini salah satu cara Tuhan memberi saya makan. Ketika orang lain menganggap bahwa sedekah bukan lagi menaruh uang di kotak amal. Mereka semua sudah menganggap bahwa dengan membuang sampah adalah sedekah bagi orang-orang seperti saya ini,” begitulah penjelasan nenek itu dengan bahasa Jawanya. Penjelasan yang kudapat setelah aku pulang kantor dan setelah aku dicaci-maki karena terlambat hanya untuk alasan yang tidak penting.
Sejak kecil, aku memang sudah terbiasa untuk membantu orang lain. Banyak yang mengatakan bahwa kebiasaanku adalah kelemahanku. Dua kali aku dipecat karena aku lebih mementingkan orang lain daripada urusanku sendiri. Alasan demi alasan tidak pernah logis di mata atasan. Namun, hanya itulah kepuasan tersendiri yang begitu nikmat. Tidak ada lagi yang kuharapkan selain senyuman dan canda tawa yang terlontar dari bibir manis orang yang kubantu.
Keesokan harinya atasanku memerintahkan aku untuk mengantarkan dokumen ke sebuah perusahaan. Di tengah jalan, kebiasaan itu muncul lagi. Ada seorang anak yang tertabrak motor karena terlalu asik bermain layangan. Pengendara motor itu langsung kabur hanya meninggalkan sebuah spion di pinggir jalan seperti cicak yang melakukan autotomi. Aku pun segera menepi karena memang tidak ada siapa-siapa lagi yang akan membantunya. Maksudku, orang lain hanya melihat takjub, terpana, terkaget-kaget, dan tanpa berbuat sesuatu untuk menolongnya. Bahkan beberapa orang hanya merekam atau memfotonya lewat telepon genggam. Aku tidak habis pikir.
Setelah aku kembali lagi ke kantor, atasanku dengan senang hati memotong gajiku. Aku terlambat untuk mengantarkan dokumen. Tapi menurutku itu lebih baik daripada aku terlambat untuk mengantarkan anak kecil itu ke rumah sakit. Tentu saja alasan seperti itu tidak akan didengar oleh atasanku. Aku hanya pasrah dengan keputusan beliau. Kebiasaan ini seperti sudah menjadi sebuah penyakit yang melekat di tubuhku. Aku akan melupakan segalannya hanya untuk memenuhi hasrat kebiasaanku ini.
“Ditanya kok malah diam saja! Apa kamu yakin tidak akan melakukan hal ini lagi?” tanya atasanku membuyarkan lamunanku. Tentu saja itu adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.
“I-iya Pak!”
Lha pie toh? Kalau sampeyan tidak jawab ‘iya’, maka akan saya pecat. Tidak ada pilihan lain! Kalau tidak, ya cari pekerjaan lain yang cocok untuk Anda. Pembantu rumah tangga mungkin? Atau pembantu rumah tetangga? Ya terserah. Setidaknya itu dapat menyalurkan kebiasaan Anda. Kebiasaan Anda itu merugikan saya. Tentu saja merugikan perusahaan dan karyawan-karyawan yang lain. Ingat! Waktu adalah segalanya!”
Aku pun mengangguk setuju dengan beban berat yang saat ini kurasakan. Aku terpaksa menjadi seekor cicak yang lebih baik kabur dan meninggalkan ekornya daripada menjadi seekor nyamuk yang berani melawan orang bertubuh besar. Aku tidak akan berbaik hati lagi mengantarkan tetanggaku ke sekolah seperti yang kulakukan tadi pagi. Di hari yang akan datang akan kusempatkan untuk belajar menolak permintaan tolong dari berbagai orang.
Keesokan harinya, tidak ada seorang pun yang kubantu selama perjalanan ke kantor. Setiap hari aku melakukan hal yang sama semacam itu. Kucing yang tertabrak, seorang nenek yang hendak menyebrang, orang terjatuh dari tangga, pengemis yang dimaki orang, dan sebagainya tidak aku hiraukan. Aku memaksa diriku untuk menepati janji. Meskipun keinginanku untuk membantu orang lain masih saja menggebu-gebu, aku takut itu hanya hawa nafsu yang seharusnya kutahan setidaknya sampai pulang bekerja. Dengan sekejap hidupku berubah menjadi seorang yang individualis bahkan cenderung egois.
Pada saat itu musim hujan datang tanpa mengetuk pintu. Datang tergesa-gesa sehingga membuat ribuan orang tidak sempat membawa payung saat hendak bepergian. Hanya ada dua pilihan yang harus mereka pilih. Berdiam diri menunggu hujan reda atau bergegas menuju tempat yang dituju dengan pakaian yang basah kuyup. Bagiku, pilihan kedualah yang kupilih.
Setibanya di kantor, puluhan orang penting sedang berkumpul. Seorang rekan kerjaku langsung terbirit-birit menanyakan kabar atasan kami.
“Pak Suminto?” aku balik tanya.
“Iya. Dia sudah ditunggu orang-orang penting itu,” ucap rekanku seraya menggerakan bola mata hitamnya ke kanan. “Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hari yang sangat penting ini? Kau tahu di mana dia?”
“Mana kutahu,” aku menjawab santai sambil berjalan ke arah ruanganku. Memang semenjak kejadian minggu lalu, aku sedikit jengkel dengan atasanku. Biar saja dia merasakan terlambat untuk masuk kantor. Aku bahkan tidak ingin menolong atau bahkan mendengar kabarnya saja sudah tidak sudi.
Dua jam berselang. Para karyawan yang sedari tadi sibuk mencari Pak Suminto, kini sudah mulai surut. Semuanya seperti kembali pada kerjaannya masing-masing. Puluhan orang penting sudah tidak sabar untuk menunggu lebih lama lagi. Mereka memutuskan untuk pergi.
Seorang sekertaris masuk ke ruanganku. “Pak Suminto marah besar. Dia ingin bertemu denganmu sekarang,” katanya.
Lho kok malah saya yang dipanggil?” tanyaku terheran-heran. Sebelum pertanyaanku dijawab, Pak Suminto membuka pintu ruanganku dengan kasar.
“Anda saya pecat! Bereskan barang-barang Anda sekarang juga tanpa banyak bicara!” teriakan Pak Suminto langsung menyambar tepat di wajahku. Pakaiannya basah kuyup dan sedikit menerawang sehingga pusar perutnya yang buncit dapat terlihat jelas. Rambutnya yang lepek membelah dua seperti artis dangdut. Secara keseluruhan, aku seperti mendadak kedatangan seorang pelawak yang terlihat bodoh di hadapanku. Jika situasi sedang tidak formal, mungkin saat itu juga aku tertawa. Namun, aku memilih untuk membalas teriakannya.
Lho Bapak yang telat, kenapa saya yang dipecat?”
“Apa saya harus memecat diri saya sendiri? Jelas tidak! Andalah yang menjadi biang kerok dalam peristiwa ini!”
“Sebentar Pak, maksud Bapak apa?”
“Anda tahu? Orang-orang penting itu meninggalkan saya karena saya terlambat. Mereka semua membatalkan kerja samanya dengan perusahaan ini. Dengan adanya peristiwa ini, saya lagi-lagi rugi besar. Tahu?”
“Iya, saya tahu. Tapi apa urusannya dengan saya? Bukankah itu…?”
“Itu karena Anda! Saya terlambat karena harus mengantar ibu saya ke rumah sakit. Di tengah jalan menuju ke kantor, mobil saya mogok dan ban belakang saya kempes. Kebetulan saat itu hujan sangat lebat sekali. Tidak ada yang mau membantu saya setidaknya untuk mengantarkan saya ke kantor. Saat itu saya melihat Anda sedang berteduh di dekat halte bis. Berkali-kali saya panggil bahkan mata Anda sempat menghadap wajah saya. Tapi apa yang Anda lakukan? Anda langsung lari terbirit-birit seakan takut akan sesuatu. Jelas Andalah yang membuat saya menjadi terlambat.”
Itu benar. Tapi pada saat itu aku tidak benar-benar melihat wajahnya. Di dalam perjalanan aku bahkan seperti orang bisu, buta, dan tuli. Tidak ada orang yang aku hiraukan. Mereka semua sama. Mereka hanya menjadi pengganggu agar aku tidak dapat datang ke kantor tepat waktu. Di satu sisi, aku menghilangkan diriku sendiri untuk bekerja professional. Di sisi lain, aku tidak bisa menolak bahwa kebiasaanku itu kerap muncul di saat-saat tertentu. Apa aku sekejam itu? Aku hanya ingin datang tepat waktu tanpa memedulikan orang lain termasuk atasanku sendiri.
“Bukankah itu yang Bapak harapkan dari saya? Bapak ingin agar saya bekerja secara professional tanpa memedulikan orang di sekitar saya, kan? Dan itu sudah saya lakukan. Apakah saya salah?” tanyaku dengan nada yang agak keras.
“Tapi bukan itu maksud saya! Saya ini atasan Anda. Bukan orang asing yang tidak Anda kenal!”
“Saya rasa semuanya sama. Sama seperti dulu sebelum Anda melarang saya untuk tidak lagi membantu orang lain di luar sana. Semua orang saya anggap sama. Semuanya berhak dibantu, baik oleh saya maupun oleh orang disekitarnya.”
“Tapi tidak semua orang harus Anda bantu!”
“Oh iya. Tentu saja. Akhirnya saya lebih memilih untuk tidak akan membantu siapapun termasuk Bapak. Saya pikir saat itu Bapak sedang menguji saya,” ucapku yang langsung segera mungkin membereskan barang-barang di ruangan.
Aku bergegas pergi tanpa tujuanku selanjutnya. Pokoknya hari itu adalah yang terakhir aku berada di tempat yang serba kaku. Aku lebih baik memenuhi keinginanku sendiri. Mungkin benar, bekerja sambilan adalah bakatku. Membantu banyak orang tanpa ada atasan mungkin akan menjadi pekerjaanku sehari-hari. Kebisaanku adalah kelebihanku. Aku tidak ingin lagi menjadi seekor cicak.

Surakarta, 10 Mei 2014

Kamis, 03 Juli 2014

Berita: Belanja Sambil Beramal di Muslim Fair




Nurul Huda Islamic Center (NHIC) UNS menggelar acara Muslim Fair yang mulai dibuka Sabtu (2/7). Acara ini adalah program baru yang diselenggarakan oleh NHIC. Meskipun terbilang acara perdana, namun beberapa produk seperti buku dan pakaian sudah laku terjual. Antusias para pengunjung ternyata lebih besar daripada yang diperkirakan.
“Padahal baru hari pertama, itupun pada hari libur seperti ini,  tetapi sudah banyak produk yang terjual. Kami sangat optimis akan banyak pengunjung yang datang karena banyaknya acara di masjid ini, baik kajian Ramadan, buka bersama, maupun itikaf,” ujar Suwarto, takmir Masjid Nurul Huda UNS. Menurutnya, acara ini diadakan untuk menyemarakan Ramadan, memakmurkan masjid, dan mempermudah para jamaah yang ingin berbelanja.
Muslim Fair merupakan bagian dari serangkaian acara yang diselenggarakan NHIC dengan tema yang bertajuk Ramadan Spesial. Produk yang dijual dalam muslim fair antara lain pakaian muslim, sajadah, buku islam maupun umum, perlengkapan belajar, tas, dan snack. Selama bulan Ramadan, Muslim Fair dibuka dari pukul 08.00 hingga 21.00.
Buku-buku yang dijual di Muslim Fair didiskon hingga 60%, sedangkan produk baju dijual dengan harga yang relatif sangat murah.  Acara ini pun terselenggara berkat kerja sama dengan beberapa penerbit seperti Tiga Serangkai, Indiva, Pro You, Uswah, dan juga Kopma UNS. Para pengisi stan dikenakan biaya yang murah dan sisanya diberi kesempatan untuk memberi infaq secara sukarela. Dengan demikian, acara ini bukan hanya untuk menjual produk semata melainkan memberikan sarana untuk memperbanyak pahala baik bagi penjual maupun pembeli.
“Masjid ini memang merupakan tempat berkumpulnya orang banyak dari segala umur dan jabatan, maka dari itu saya yakin Muslim Fair ini dapat berkembang lebih pesat lagi. InsyaAllah tidak hanya pada bulan Ramadan saja, untuk hari biasa pun kami ingin mengadakan acara semacam ini lagi,” ujar Suwarto lagi.
 Menurut Farhan, salah satu pengunjung dari mahasiswa fakultas kedokteran UNS, acara tersebut perlu ditingkatkan lebih baik lagi. “Dengan cara mengadakan bazar buku seperti itu, penyebaran ilmu baik islam maupun pendidikan dapat dilakukan secara lebih maksimal. Saya berharap agar sosialisasi acara ini dapat lebih menyeluruh agar dapat diketahui banyak orang,” ujarnya ketika dimintai pendapat tentang Muslim Fair. (Mg1/Mg4)

 Radar Solo, 3 Juli 2014

Rabu, 02 Juli 2014

Tausiah: Puasa Kesadaran Beribadah


Narasumber: Siti Muslifah.SS.MHum
Sekretaris jurusan Sastra Arab Universitas Sebelas Maret 


Ramadan adalah bulan mulia yang senantiasa dirindukan dan ditunggu-tunggu kedatangannya oleh seluruh umat muslim di dunia. Sudah selayaknya kita sambut dengan keadaan gembira dan dengan keadaan diri yang suci pula. Baik suci secara fisik , suci secara pikiran, maupun suci dari prasangka-prasangka yang kurang baik. Pada bulan Ramadan, umat muslim diwajibkan berpuasa. Berpuasa sendiri secara fisik adalah menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Menahan haus dan lapar saat Ramadan secara Psikologis harus dimaknai bagai arahan kepada setiap diri utamanya umat muslim untuk mematangkan jiwa dalam pengendalian diri. Pengendalian diri dari sisi psikis atau kejiwaan sangatlah penting artinya hal ini akan menghasilkan pematangan jiwa yang berupa kesadaran. Kesadaran untuk beragama, kesadaran untuk melaksanakan perintah-perintah Allah, kesadaran untuk menghindari larangan yang ditentukan oleh kententuan agama kita utamanya adalah agama Islam.
Sesorang yang mampu mengendalikan diri maka seorang itu disebut ulil albab, ulil albab dalam bahasa Arab berarti inti dari segala sesuatu. Kita bisa memaknai bahwa setiap sesuatu itu pastilah memiliki inti atau sari. Inti itu menjadi sangat penting karena pada setiap hal itu harus dicari sumbernya. Inti harus bersifat permanen atau tidak mudah berubah meskipun ada pengaruh-pengaruh situasi apapun. Jelang beribadah puasa sudah seharusnya setiap diri bisa mengenalli diri dan menangkap-menangkap inti dalam dirinya. Jadi ulil albab artinya setiap umat muslim harus memiliki kesadaran beribadah dan kesadaran apapun. Dengan demikian diharapkan mampu mendapatkan inti dan mampu memaknai puasa dalam arti sebenar-benanrnya.
Pada masalah kesadaran diri ini Allah berfirman Allah memberikan pertanyaan-pertanyaan semacam pertanyaan yang  jika kita simak menjadi sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada diri kita “Wahai manusia, apa yang memperdayakanmu sehingga (berlaku durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pengasih?”(QS 82: 6). Maha Allah, mengasihi siapa saja, apa saja dan seluruh makhluk tanpa terkecuali. Allah juga berfirman, “Apakah manusia mengira dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?” (QS 29: 2). Artinya setiap apa yang kita kerjakan apapun itu akan dimintai pertanggungjawaban, kaitannya dengan bulan Ramadan adalah setiap ibadah, amalan, dan perbuatan  yang kita jalankan, ada perhitungannya dan pertangungjawabnya. Kita bisa mengerti inti jika kita mengenali pada diri dengan penuh kesadaran bahwa apa yang kita lakukan itu nanti pada akhirnya diminta pertangungjawaban maka tidak mungkin kita tidak melakakukan hal-hal yang sifatnya baik, suci, menyesuaikan dengan apa yang ditentukan oleh Allah SWT.
Allah tidah pernah meminta apapun kepada kita. Allah berfirman, “Seungguhnya aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah kepadaku”(QS 51: 56). Inti dari penciptaan semua mahkluk adalah untuk beribadah. Jika kita sudah memliki kesadaran maka kita yakin bulan Ramadan akan dijalani dengan penuh kegembiraan dan kesadaran. Itu artinya bahwa ibadah puasa sebetulnya untuk diri manusia sendiri. Dengan berpuasa pencernaan kita istirahat sejenak dan itu hanya siang hari saja selama 10 jam maka Allah berfirman “makanlah kamu minumlah kamu dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (QS 7: 31). Karena itu jangan balas dendam, setelah puasanya makannya habis-habisan. Berpuasa harus dilakukan sebagi inti dari kesadaran. Penting dalam beribadah puasa adalah menyucikan diri, menyucikan hati dengan sepenuh kesadaran agar puasa dijalankan sebagai sebuah ibadah yang dijalankan secara tulus ikhlas. (Mg5/Mg6)                 

Radar Solo, 2 Juli 2014

Berita: Ramadan Spesial dari Nurul Huda Islamic Center




Bulan Ramadan merupakan bulan yang tepat untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala dari Allah SWT. Banyak kegiatan dan acara untuk mengisi bulan ramadan ini yang diselenggarakan oleh beberapa lembaga. Salah satunya Nurul Huda Islamic Center Universitas Sebelas Maret (UNS) akan menyemarakan bulan Ramadan dengan kegiatan pasantren Ramadhan, Sabtu (5/7) hingga 6 Juli mendatang.
Pasantren Ramadan akan dilaksanakan di Masjid Nurul Huda UNS. Kegiatan selama dua hari itu diadakan dalam rangka menghidupkan ibadah di bulan Ramadan serta sarana pembinaan adik asuh. Peserta yang akan mengikuti kegiatan tersebut berasal dari siswa SMP sampai SMA.
“Seluruh acara di UNS ini bertujuan untuk menyemarakan bulan Ramadan dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat,” ujar Suharto selaku Takmir Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret.
Selama bulan Ramadan terdapat pula kajian rutin menjelang buka puasa yang akan dibahas oleh beberapa pembicara dengan tema yang berhubungan dengan Ramadan. Setelah kajian rutin disajikan pula makanan untuk buka bersama di Masjid Nurul Huda UNS. Biasanya kegiatan buka bersama tersebut diramaikan oleh para pedagang kaki lima yang sengaja disediakan tempat di depan Masjid Nurul Huda.
Kegiatan lain yang juga diadakan secara rutin adalah tarawih dan kultum kampus.  Selain itu, ada pula muslim fair yang menyajikan beragam produk-produk muslim yang baru akan dibuka besok.
Pada hari Minggu (13/7) akan diselenggarakan buka bersama dengan 1000 anak yatim dan dhuafa. Acara tersebut dimeriahkan pula dengan pentas dari adik-adik TPA,  dongeng dari komunitas pendongeng Surakarta dan juga ada penyerahan bingkisan bagi anak yatim yang berprestasi. Acara ini sebagai sarana berbagi kebahagiaan kepada sesama.
Kegiatan itikaf pada sepuluh hari terakhir menjelang lebaran juga akan diselenggarakan di Masjid Nurul Huda UNS. “Karena itikaf itu harus menginap di masjid, maka dari itu kami memfasilitasi makan sahur gratis pada saat itikaf tersebut,” ujar Suwarto. (Mg1/Mg4)

Radar Solo, 2 Juli 2014

Selasa, 01 Juli 2014

Berita: Semangat Santri Al-Muayyad dalam Bermain Hadrah




Detuman rebana ditabuh beberapa kali oleh peserta pasantren kilat dipandu oleh salah satu pemain Hadrah Ayyada di pondok pasantren Al-Muayyad, Senin 30 Juni 2014. Kegiatan ekstra tersebut mulai pada pukul 16.00. 
Hadrah Ayyada adalah sebuah ekstrakulikuler yang berada di Pondok Pasantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta. Berdiri sejak tahun 1990-an bersamaan dengan berdirinya Ponpres Al-Muayyad. Nama Ayyada sendiri mempunyai arti yang dikuatkan. Rata-rata pemain musik yang mengikuti kegiatan hadrah ini adalah siswa SMP dan SMA. Biasanya para pemain latihan seminggu sekali.
Jenis pukulan yang dimainkan antara lain roleo, biasa, engkel, pedro, patrik, dan patrik tiga kali. Cara bermain musiknya biasanya dilakukan dengan tempo lambat dan semakin lama semakin cepat. Alat musik yang dipakai oleh hadrah yang dipimpin oleh Muslimin ini adalah rebana.
“Karena Hadrah Ayyada ini sudah menjadi juara 1 sebanyak tiga kali se-Surakarta, makanya tidak diperbolehkan lagi untuk mengikuti acara lomba. Kami lebih memilih untuk pengiring acara lomba tersebut,” ujar Munir salah satu pemain hadrah.
Tujuan utama para pemain Hadrah hanya untuk menyebarkan agama dengan cara berdakwah sambil bermain musik. Selain itu, mereka ingin menunjukan eksistensi mereka di dunia musik. “Kami tidak ingin disebut sebagai pondok yang hanya bisa mengaji, tapi kami mampu menunjukan kemampuan kami di dunia musik,” ujar Munir lagi.
Sejauh ini hadrah Ayyada telah tampil diberbagai acara-acara besar baik di kota Solo maupun di luar kota. Kota yang paling jauh dikunjungi adalah Pemalang. Setiap kali latihan, mereka selalu mengubah variasi pukulan agar lebih menarik dan berbeda dari biasanya. Resep utama yang menjadikan mereka berhasil meraih beberapa kali juara adalah keunikan pukulan mereka yang khas. Mereka menyebutnya rumus tabuhan Al-Muayyad. Tabuhan tersebut terbilaang unik dan tidak ada yang bisa melakukannya selain hadrah Ponpres Al-Muayyad.
Menurut Aziz, salah satu peserta yang mengikuti kegiatan ekstra mengaku senang dapat bermain rebana bersama para pemain Hadrah Ayyada. Dia merasa mendapat pengalaman baru di Ponpres Al-Muayyad.  
Para pemain hadrah sendiri mempunyai keinginan yang besar untuk terkenal di Indonesia. Dengan harapan dan impian semacam itu, mereka terus berlatih untuk meningkaatkan kemampuan mereka. Kemenangan tidak menjadikan mereka bermalas-malasan, tetapi menambah semangat untuk terus menjadi panutan bagi yang lain. Adapula ekstrakulikuler lain berupa kaligrafi, qira’ah, dan pelatihan jurnalis. (Mg1/Mg4)

Radar Solo, 1 Juli 2014

Berita: Manasik Haji di Pondok Pasantren Jamsaren


Sekitar 180 peserta pasantren kilat terlihat sangat antusias melaksanakan kegiatan manasik haji di lapangan Pondok Pasantren Jamsaren, Sabtu 28 Juni 2014. Peserta diajak untuk melakukan simulasi ibadah haji dari mulai dari Bandara Soekarno-Hatta sampai menuju Mekah. Meskipun hujan deras sempat menghentikan kegiatan manasik haji tersebut, peserta tetap bersemangat untuk meneruskan materi di dalam aula pondok. Kegiatan yang keempat belas kalinya tersebut bertujuan membangun generasi muslim yang aktif, kreatif, dan inovatif di semua aspek kehidupan.
Manasik haji ini adalah salah satu bagian dari pasantren kilat yang sudah berlangsung dari hari Kamis, 25 Juni 2014. Sebelumnya, pendaftaran sudah dibuka dari tanggal 15 Mei – 25 Juni 2014. Kemudian, peserta harus tinggal di pondok selama lima hari hingga penutupan acara yang berlangsung pada hari Senin, 30 Juni 2014.
Acara ini dibuka untuk umum dengan kategori peserta dari kelas 3 SD sampai 2 SMP. “Kebanyakan siswa yang mengikuti acara ini adalah siswa dari SD Al Islam Jamsaren 2. Selain itu ada pula peserta dari SD negeri yang ikut acara ini,” ujar Faisal Abdahulmajid, ketua panitia acara pasantren kilat. Dia juga menuturkan bahwa dalam kegiatan ini, siswa diajarkan untuk melaksanakan tata cara ibadah yang benar dan mendalami ilmu agama meskipun hanya dalam waktu yang singkat.
“Acara ini sangat bermanfaat baik untuk panita maupun peserta. Panitia diajarkan untuk melatih dan mendidik jiwa kepemimpinan anak, sedangkan bagi peserta mendapatkan bekal dalam ilmu agama terutama akhlak,” terang Fatoni, wakil lurah Pondok Pasantren Jamsaren. Panitianya sendiri berasal dari Pondok Pasantren Jamsaren yang bekerja sama dengan Osis MA Al-Islam dengan jumlah 80 orang.
Selain kegiatan manasik haji, terdapat pula kegiatan lain seperti outbond di hutan karet Karanganyar, menonton video islami, ta’aruf Ramadan, lomba kerohanian, dan motivasi emotional spiritual quotient (ESQ) guna membentuk karakter peserta. Lalu, pada 19 Ramadan nanti akan dilangsungkan tabligh akbar dan buka bersama. (Mg1/Mg4)

Radar Solo, 1 Juli 2014
   

Tausiah: Ramadan Sebagai Sarana Membersihkan Hati




Narasumber: Sukarmin, S.P.d., M.Si., Ph.D.
Ketua Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan (PMIPA)
Universitas Sebelas Maret dan ketua dewan pengawas Yayasan Nurhidayah Surakarta


Rasulullah dan para sahabatnya sangat antusias bila bulan Ramadan telah tiba. Biasanya pada bulan Sya’ban, Rasulullah memperbanyak puasa dan aktivitas ibadah untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadan. “Puasa itu diibaratkan sebuah oase yang jernih di padang pasir. Seseorang yang sedang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan yang dekil dan kotor pasti akan merindukan air di tengah gersangnya padang pasir. Orang tersebut pasti akan langsung menceburkan diri ke dalam oase dan membawa sedikit air untuk perjalanan selanjutnya. Sama halnya dengan oase yang dirindukan oleh musafir, Ramadan pun sangat dirindukan oleh umat Islam,” ujar Sukarmin, ketua jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Universitas Sebelas Maret.
Segala kebaikan pada umumnya dapat mempengaruhi hati dan pikiran manusia. Salah satu kebaikan yang wajib dilakukan oleh umat Islam adalah puasa pada bulan Ramadan. Maka dari itu, puasa mempunyai manfaat untuk membersihkan hati. Seperti yang dikatakan oleh Rasulullah, “Ketahuilah bahwasanya pada setiap tubuh ada segumpal daging. Jika daging itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuhnya. Namun apabila dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah bahwasanya segumpal daging itu adalah qalbu,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Sukarmin menyatakan bahwa menurut Imam Malik, hati itu seperti benda yang mempunyai inti di dalamnya. Inti hati disebut juga dengan dhamir. Dhamir mempunyai sifat furqan yaitu pembeda yang mempunyai fungsi untuk membedakan benar dan salah. Jika dhamir tertutupi oleh noda hitam, maka dhamir itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Dengan demikian, dhamir harus selalu dibersihkan salah satunya dengan puasa pada bulan Ramadan.
Hubungan antara takwa dengan pembersihan hati terletak pada tujuan berpuasa. Tujuan puasa adalah untuk bertakwa pada Allah SWT, sedangkan jalan takwa adalah jalan orang-orang yang senantiasa menyucikan hatinya. Oleh karena itu puasa dapat berfungsi sebagai sarana pembersihan hati. Sebagaimana firman Allah SWT, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya,” (QS 91:9-10).
Pada bulan Ramadan, umat Islam memiliki kesempatan yang besar untuk memaksimalkan obat hati dalam rangka membersihkan rohani. Pertama, umat Islam dianjurkan untuk membaca Alquran dan maknanya. Selain menjadi pedoman hidup, Alquran juga sebagai sarana untuk menghaluskan hati. Rasulullah pernah memerintahkan, “Perbanyaklah membaca Alquran di rumah, sesungguhnya di dalam rumah yang tidak ada orang membaca Alquran, akan sedikit sekali dijumpai kebaikan di rumah itu, dan akan banyak sekali kejahatan, serta penghuninya selalu merasa sempit dan susah,” (HR Daru Quthni).
Sukarmin juga menuturkan bahwa rumah yang sering dilantunkan suara Alquran akan terlihat bercahaya dari atas langit. “Selain itu, dengan membaca Alquran maka dapat melapangkan hati. Oleh karena itu, orang yang sering membaca Alquran akan terhindar dari perselisihan atau pertengkaran,” tambahnya.
Kedua, umat Islam dianjurkan untuk salat malam atau salat tarawih khususnya pada bulan Ramadan. Fungsi orang yang mengutamakan salat itu agar terhindar dari sifat berkeluh kesah dan gelisah. Seperti firman Allah SWT, “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan, (harta) dia jadi kikir, kecuali orang-orang yang melaksanakan salat,” (QS 70: 19-22).
Ketiga, umat Islam tentu saja diwajibkan untuk berpuasa pada bulan Ramadan. Keempat, umat Islam dianjurkan untuk berkumpul dengan orang-orang saleh. “Lingkungan sangat penting terhadap kepribadian seseorang karena dengan mengetahui bagaimana keadaan komunitas seseorang maka kita akan dapat mengetahui kepribadian orang tertentu,” ujar dosen yang juga menjabat sebagai ketua dewan pengawas Yayasan Nurhidayah Surakarta tersebut. Kelima, umat Islam juga dianjurkan untuk bersedekah pada bulan Ramadan. Dengan demikian, bulan Ramadan sebagai kesempatan untuk menambah pahala sebanyak-banyaknya. (Mg3/Mg4)

Radar Solo, 1 Juli 2014