Rabu, 04 Juni 2014

Tips Membuat Layout Buku (Bagian 1)

Oleh: Michelia Alba


Hari ini saya ingin berbagi ilmu pada pembaca dalam membuat layout pada sebuah buku. Pada bagian yang pertama ini sangat sederhana. Layout pada bagian ini adalah layout yang biasanya dilakukan oleh para layouter dan memang umumnya seperti ini. Berikut adalah caranya:


  1. Masuk ke microsoft word terlebih dahulu. Kemudian pada bar di atas terdapat tulisan Page Layout, kemudian klik. Setelah itu, klik pada bagian Margin dan akan muncul bar panjang yang turun ke bawah. Lalu, klik Custom Margin. 
  2. Munculah kotak Page Setup. Ganti ukuran margin sesuai dengan keinginan. Biasanya ukurannya tidak lebih dari 2 cm. Umumnya 1,5 cm. Kemudian pada Pages terdapat Multiple Pages. Klik pada bagian tersebut. Kemudian akan muncul Book Fold dan klik. Setelah selesai klik ok (jika kertas yang Anda inginkan adalah Letter). Jika kertas yang Anda inginkan adalah A4 atau yang lainnya silahkan lanjut ke cara yang berikutnya. 
  3. Masih pada Page Setup. Klik Paper pada bagian atas sebelah Margin. Kemudian akan muncul Paper Size dan klik pada bagian bawahnya untuk memilih kertas. Biasanya kertas yang digunakan adalah Letter atau A4. Setelah itu klik OK. Lihatlah hasilnya. Layout buku selesai. Namun, itu masih bagian pertama. Selanjutnya akan saya tambahkan lagi pada bagian kedua.  

Selasa, 03 Juni 2014

Meditasi

oleh: Heru Emka

hening
tubuh tipis mengapung
gaung
bunyi
sepi - kucari Dia

tak mudah kujumpa

17 Juli 76

Persahabatan

oleh: Heru Emka

berbunga indah di hati
membayang di hari sepi
dan lenyap
di tempat gelap tak bertepi

kegembiraan dalam kehidupan
di tengah persahabatan
bunga jagung yang mekar di kebun
begitulah meriahnya

10 Agustus 76

(diambil dari kumpulan puisi Tanda karya Heru Emka, 1984)

Hidupku

oleh: Heru Emka

lingkup sepi - bulan merah
samar
tanpa angin
bulan merah - sendiri
suram
namanya duka.

19 Juli 76

(diambil dari kumpulan puisi Tanda karya Heru Emka, 1984)

Senin, 02 Juni 2014

Potret Diri

oleh: Heru Emka

bila sepi mencekam, bila resah menggelut
tahukah kau, apa arti keluh yang ragu?

bila bimbang mendatang, bila doa melayang
bertubi dalam kehidupan, yang manakah kepastian?

bimbang kau punya, takut kau punya
kelelawar yang terperangkap siang akan menjerit sampai malam tiba
kau dan aku hidup atau mimpi dengan harap tak pasti

di hidup yang begini sunyi, aku tak tahu
senantiasa keluh, menunggu yang menghapus duka
senantiasa rubuh, membuang rindu yang ada.

76

(diambil dari kumpulan puisi Tanda karya Heru Emka, 1984)

Sunyi Bagiku

oleh: Heru Emka

sunyi bagiku bukanlah ketakutan
ia nyanyi bagi sekelompok yang tersisa
bila kau mengira yang tersisa itu berdosa
biarlah kuanggap sunyi itu nyanyi dosa

bagiku sunyi bukanlah penderitaan
ia hiburan untuk sekelompok yang terluka
bila bagimu yang terluka itu berduka
biarlah kuanggap sunyi itu penghibur duka

seperti halnya diriku, saudara,
dipukau sepi sejak babak pertama
bayang-bayangku ia, kekasih tercinta
pemburu yang tak pernah mati, pencari jejak sejati

bila bagimu sepi itu hina
ia memang sahabat si hina
tapi jejaknya tetap murni
bagai pertama kali turun ke bumi

14 November 76
(diambil dari kumpulan puisi Tanda karya Heru Emka, 1984)

Minggu, 01 Juni 2014

Resensi Novel Sunset Bersama Rosie Karya Tere Liye


Oleh: Michelia Alba

Novel: Sunset Bersama Rosie
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Mahaka Publishing
Cetakan: pertama, 2012
Halaman: 426, Tebal: 20 cm
ISBN: 978-602-98883-6-2




Sinopsis dalam Novel:
Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas saat dikenang.
Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? Atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu yang amat spesial di waktu yang juga spesial? Atau boleh jadi gratis, karena kita lakukan saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali.
Sebenarnya apakah itu kesempatan? Apakah itu makna keputusan? Bagaimana mungkin kita terkadang menyesal karena sebuah keputusan atas sepucuk kesempatan? Sebenarnya, siapakah yang selalu pantas kita sayangi?
Dalam hidup ini, ada banyak sekali pertanyaan tentang peraasaan yang tidak pernah terjawab. Sayangnya, novel ini juga tidak bisa memberikan jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaan itu. Novel ini dituliss hanya untuk menyediakan pengertian berbeda, melalui sebuah kisah keluarga hebat di pantai yang elok. Semoga setelah membacanya, kita akan memiliki satu ruang kecil yang baru di hati, mari kita sebut dengan kamar ‘pemahaman yang baru’. Selamat membaca.

Sinopsis Secara Keseluruhan:
Novel ini menceritakan tentang persahabatan, kasih sayang, dan cinta. Awalnya dikisahkan seorang bernama Tegar yang mempunyai sahabat bernama Rossie. Rossie mempunyai anak yang bernama Anggrek, Lili, Sakura, dan Jasmine. Rossie mempunyai suami bernama Nathan. Mereka telah menikah selama tiga belas tahun lamanya. Mereka hidup sangat bahagia.
Pada suatu hari Rossie dan Nathan ingin merayakan ulang tahun pernikahan yang ketiga belas. Tegar pun ikut senang mendengarnya. Dia siap-siap untuk memberikan kejutan yang paling berharga bagi kedua sahabatnya itu.
Sahabat? Omong-omong tentang persahabatan, mereka (Tegar, Rossie, dan Nathan) pernah bersahabat. Tegar sudah bersahabat dengan Rossie telah lama, sedangkan Nathan baru dikenal Rossie dua bulan sebelum pacaran dan akhirnya menikah. Tegar sebenarnya telah mempunyai perasaan cinta terhadap Rossie. Namun, dari dulu ia tidak berani mengungkapkannya. Nathan yang baru berkenalan dengan Rossi justru lebih cepat menyatakan cintanya. Kesempatan Tegar pun hilang.
Tegar pun menyesal karena perasaannya tidak dapat disampaikan. Namun selang bertahun-tahun akhirnya dia dapat melupakan semuanya. Dia pun ingin segera menikah dengan Sekar. Namun, pada saat di ulang tahun pernikahan Rossie dan Nathan, pada saat Sakura ingin memberikan kejutan kepada mereka berdua, tiba-tiba ada bom yang meledak di Bali. Semuanya hancur. Peristiwa menyenangkan pun berubah menjadi kesedihan.
Tegar langsung pergi ke Bali untuk mengecek semuanya baik-baik saja. Tanpa sadar dia meninggalkan pesta perkawinannya dengan Sekar. Dia harus memastikan Rossie, Nathan, dan anak-anaknya. Pada saat tiba di sana. Nathan telah ditemukan tewas. Rossie pun menjadi stress. Dia sempat melakukan aksi bunuh diri meskipun gagal. Hal itu mengharuskan Tegar untuk tidak masuk kerja selama dua minggu bahkan lebih. Hal itu pulalah yang membuat khawatir Sekar. Dia sedikit khawatir apabila Tegar berpaling kembali pada Rossie.
Rossie harus dirawat di psiolog. Itu membuat anak-anaknya harus pisah dengan ibunya selama beberapa hari. Singkat cerita, Tegar harus menetap di Bali selama dua tahun meninggalkan Sekar calon istrinya. Cinta yang dulu bersama Rossie akhirnya muncul lagi. Dia yang berjanji pada sekar untuk kembali pulang ke Jakarta setelah Rossie sembuh pun dilupakannya.
Sekar akhirnya memutuskan untuk menikah dengan pria lain yang tidak dicintainya. Namun Linda datang kepada Tegar untuk membatalkan pernikahan itu. Setelah beberapa lama mendengar penjelasan Linda dan berpikir akhirnya Tegar merasa bersalah dan menyesal. Dia langsung bergegas menemui Sekar untuk mengajak kembali menikah dengannya.
Pada akhir cerita, menjelang pernikahan Tegar dan Sekar, Sekar berubah pikiran. Dia malah memaksa Rossie untuk menikah dengan Tegar karena melihat ada kebahagiaan dan masih ada kesempatan bagi Tegar untuk mengubah keadaannya.

Resensi Novel
Novel ini hampir menyerupai novel yang berjenis cinta pada umumnya. Namun kemasan yang disuguhkan oleh seorang pengarang benar-benar berbeda. Dengan kata-kata yang indah dan penuh dengan gaya bahasa yang menggambarkan suasana dalam cerita tersebut dapat membuat novel ini menjadi berbeda.
Pengarang benar-benar mengetahui bagaimana cara memaknai semua unsur cerita. Bahkan nama yang ada pada novel tersebut, dari Rossie, Lili, Sakura, Jasmine, dan anggrek semuanya mempunyai fungsi yang bermacam-macam. Sifat dan karakternya berbeda namun tetap mempunyai tujuan yang sama. Selain untuk memperkaya unsur cerita, tetapi keempat nama tersebut secara tidak langsung adalah sebagai pembangun cerita agar berjalan utuh.
Novel ini sebenarnya akan berakhir dibaca ketika melihat bab pertama dan bab terakhir tanpa harus membaca keseluruhan. Namun, isinya benar-benar mengubah semua pemikiran pembaca. Pembaca dibiarkan untuk menebak-nebak sembari membayangkan keadaan dalam novel tersebut. Layaknya manusia yang sebenarnya mempunyai sesuatu yang nyata dan dapat diketahui sebelumnya yaitu hidup dan mati, tetapi manusia seperti diberikan banyak halaman pada hidupnya agar mampu menebak-nebak sendiri jalan hidupnya.
Pelajaran yang dapat diambil adalah fokus. Sebenarnya jika kita fokus terhadap sesuatu dengan keyakinan yang tinggi, akhirnya kita mendapatkan apa yang diinginkan. Namun terkadang godaan-godaan selalu saja datang. Namun, sepertinya godaan-godaan itu tidak serta merta dihadirkan untuk sebagai pengganggu. Tetapi sebagai ujian dan sebagai bumbu dan warna kehidupan. Terkadang manusia akan merasa jenuh jika hidup hanya berjalan di jalan lurus saja.
Dari novel ini dapat diambil kesimpulan bahwa kesempatan itu sebenarnya bukan tidak datang dua kali, hanya saja kesempatan itu tertunda. Kesempatan adalah masalah keyakinan. Ketika seseorang yakin, maka kesempatan itu akan datang dengan sendirinya. Terkadang Tuhan menepatkan kesempatan itu pada tempat yang tepat. Seseorang harus diuji berkali-kali sebelum hendak mendapatkan kesempatan yang terbaik. Maka dari itu, percayalah bahwa kesempatan akan hadir di saat yang tepat. “Mawar akan tetap tumbuh di tegarnya karang, jika kau menghendakinya.